Langsung ke konten utama

Self Esteem

Kemarin baru mulai sibuk-sibuknya ngurusin surat untuk syarat ujian & yudisium.
Entah kenapa negeri ini begitu senang membuat sesuatu yg harusnya mudah, jadi sulit.
 Ada beberapa surat yang butuh waktu pengurusan satu atau dua jam, ada juga yg perlu waktu seminggu karena harus bolak-balik nyari tanda tangan atau nunggu "tokoh" nya "ada di tempat".
Begitu juga sistem keluarnya surat itu. Setelah satu surat kelar, surat lain nunggu untuk diurus.

Kira-kira begini caranya mahasiswa akhir membuang waktunya dengan memikirkan beberapa hal berikut:
1. Ujian nggak akan bisa diadakan kalau surat-suratnya nggak lengkap.
2. Surat nggak akan lengkap tanpa tanda tangan.
3. Tanda tangan nggak akan terbubuhi kalau dosennya nggak ada di tempat.
4. Dosen nggak akan bisa tanda tangan kalau sibuk.
Yah....sibuk.

Ada juga opsi seperti ini:
1. Dosen sibuk, baik, tapi untuk nyocokin jadwal butuh 3-4 hari
2. Dosen baik banget, jadwal udaah ditentuin, tapi tiba-tiba ada undangan formal mendadak, akhirnya  terpaksa balik ke poin 1.
3. Dosen nggak sibuk, tapi kemauannya bikin kita jadi sibuk.
4. Dosen nggak sibuk-sibuk banget, baiiiiiik banget, tapi rezekinya kita bukan dosen yg itu.

OKE. Balik ke judul.

Yg mau gue ceritain di tulisan ini adalah bagaimana beberapa warga Indonesia menilai dirinya sendiri. Ceritanya saat kemarin gue minta tanda tangan bebas laboratorium di Lab Pusat.

Cerita 1

 : Permisi Pak, saya mau minta tanda tangan bebas lab
 : Oh ya, sini sama saya
 : *nyodorin pulpen yg selalu gue bawa ke mana-mana [snowman drawing pen 3.0]
 : Saya pake yg ini aja mbak (nunjuk pulpen biasa), nggak biasa pakai pulpennya pejabat
 : Ohiya Pak (ketawa asem)

Setelah itu, gue balik ke fakultas gue, minta tanda tangan lab lainnya.

Cerita 2

 : Permisi Pak, saya mau minta tanda tangan bebas lab
 : Oh ya, sudah mau ujian ya?
 : Iya Pak, hehe
         *nyodorin pulpen yg sama [snowman drawing pen 3.0]
 : Semoga lancar yaa *tanda tangan, masukin pulpen gue ke kantong kemejanya
 : Pak, maaf itu pulpen saya...
 : Wah iya! Pulpen kita sama...hehehe *nyadar skrg ada 2 drawing pen di kantongnya


Hal yang mau gue tanyakan di sini adalah
Kenapa begitu banyak orang yg menilai dirinya sangat kecil, padahal kita diciptakan sama Yang Maha Besar?

Mungkin dari 10, ada 4 orang yang berperilaku kaya di cerita 1.

Merasa kecil dalam tulisan ini adalah perilaku rendah diri. 
Bukan merasa kecil karena kita nggak ada apa-apanya dibanding Pencipta.
Yg bagi gue, adalah kendala paling besar seorang manusia untuk berkembang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KKN NTT UNS Project

Introducing you a new community KKN NTT UNS Project             Sebuah kelompok Kuliah Kerja Nyata Universitas Sebelas Maret yang terdiri dari mahasiswa dari  berbagai fakultas. Kelompok ini didirikan untuk menjalankan berbagai program kerja yang bertujuan untuk membantu memecahkan berbagai masalah di Desa Kappan, Kecamatan Mollo Utara, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Dari sekian banyak program yang kami rancang, salah satunya adalah pembuatan rumah belajar. RUMAH BELAJAR PELITA BANGSA “HAIM FIM ET INDONESIA” (Kami adalah bagian dari Indonesia) Penduduk Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tergolong buta aksara masih tinggi. Jumlahnya mencapai 300.000 orang dari 4,5 juta jiwa penduduk yang menyebar di wilayah provinsi kepulauan ini (Republika, 2012). Tingkat buta huruf penduduk Kabupaten Timor Tengah Selatan , Nusa Tenggara Timur, yang berumur 10 tahun ke atas  mencapai 20 % untuk perempuan dan 10 % untuk laki-l...

When You Think You Had Your Life All Figured Out

Hey! Nulis lagi nih, hehe Some says, thinking in the shower may bring you magical ideas, or the things you should have said when you fight with other ones, or, just figuring out what you did in life. Jadi, setelah wisuda, gue kira hidup gue selesai sampai di situ. Perjuangan akademik tuntas, gue pun ngga akan belajar formal lagi. Dan saat nulis ini, gue berpikir bahwa sang "hidup" pasti lagi ngetawain gue, sambil bilang You idiot. I am just about to begin to tell you how your life should be. Miserable. Yeah. Miserable. But then, tiga hari sebelum gue menginjak umur 23, gue diperbolehkan mencicipi dunia kerja, di salah satu lingkungan pemerintahan. Links works faster these days. It was out of my expectation. Out of my reach, actually. Tapi untuk orok yg baru kelar kuliah, orang bakal bilang "yeelah, gitu aja ngeluh lu" But people, it's not the fatigue that get me out of there 4 months later, but the v alues .  Sure, gue belajar banyak dari sana...

Pembuatan VISA

Sebelum kami berangkat ke Viet Nam, setelah paspor selesai dibuat di Kantor Imigrasi Solo, kami merasa bingung untuk mengurus VISA. Banyak yang bilang bahwa VISA untuk Viet Nam dapat dilakukan secara online, sehingga kami tidak terlalu repot. Tapi di zaman ini, apapun yang dipermudah membutuhkan biaya yang lebih tinggi. Worthed sih, tapi uang saku kami kan gak begitu banyak. Jumlahnya hampir dua kali lipat dari yang dibuat di KBRI huehehe jadi kami konsultasikan ke officer HUA. Mereka memberi 2 opsi, menunggu pembuatan VISA tapi kami tidak mengikuti beberapa pekan kuliah (penundaan keberangkatan), atau tetap berangkat ke Viet Nam pada tanggal yang telah ditentukan tanpa VISA lalu membuatnya disini. Kami memilih opsi kedua, karena penundaan tiket pesawat membutuhkaaaan biaya juga :’) karena untuk mengunjungi Viet Nam dari Indonesia memang tidak memerlukan VISA sampai hari ke-29. Maksudnya kunjungan ke Viet Nam dari Indonesia bebas VISA selama 29 hari. Pembuatan VISA disini cuku...

Meeting my old friends

Jadi gue tadi sore habis dari kondangan temen SD gue. FYI, gue baru tinggal di Depok sejak 2005, sehingga temen-temen pertama gue adalah anak-anak benciritan yang baru mau masuk SMP. Lucunya, dulu gue gendut, dan galak. Sampai-sampai baru setahun di SD, kelas 6 nya gue dijadiin ketua kelas. Dan gue akui, dulu gue gak tau apasih-elaah ketua kelas doang. Tapi sekarang gue paham dan seneeeng banget karena baru dikenal setahun, langsung dipercaya jadi seorang pemimpin. And I would like to thank you for this, sincerely. Yang mau gue ceritain adalah, kenapa gue bisa berubah total saat ketemu temen-temen lama. Nih ya, kalau baru kenalan, hal yang paling banyak orang bilang tentang gue adalah gue terlihat judes dan pendiam. Gimana engga judes? Muka gue kotak, garis pipinya macem otot, dagu gue cameuh-dagu lebih maju dari gigi atas)- dan bibir gue melengkung ke bawah. Pendiam? Sama orang baru doang kok. Serius. Tapi aneh loh, kelas 5 SD dulu, eh enggak deh. Dari kecil, TK bahkan, ...

BigC & The Other Days

Hari kedua di Viet Nam, kami menyerah dengan kehidupan serba menunjuk dan ah-ih-uh-no-yes. Ya, kami cepat menyerah :" We found a way! Kami mengetuk pintu kamar 205, dan keluarlah dia.... SamAth Oeur, A Cambodian student Kalimat yang keluar begitu ketemu dia adalah, "Hey, can we find a supermarket around here?" All he said was, "Okay, 5 minutes" Dari sini aja ada satu hal yang bisa dipelajari dari sini, ada satu hal yang membedakan orang Indonesia dengan orang luar negeri adalah kesiapannya terhadap sesuatu. Ya, no hard feelings but  Indonesian nowadays needs more time to get ready . Janjian zaman sekarang harus direncanakan, tapi begitu harinya, selalu butuh konfirmasi. Contohnya melalui sms, "Bro, jadi gak hari ini? Jam sekian kan?" That is why people needs to get off from their smart gadgets and back to the old school life trends, kayak janjian lewat telepon, tepat waktu dan lebih banyak berbincang dengan sesama, ketimbang "be...